Pemanis Taman Minimalis
Siluetnya yang indah dan eksotis membuat futoi banyak dimanfaatkan para landscapper saat mengerjakan desain halaman rumah atau taman air.
Menurut Andie, futoi memang digunakan sebagai unsur estetika, memperkuat karakter konsep taman. Untuk desain berkonsep natural, minimalis, atau etnik, futoi merupakan pilihan yang tepat.
Selain indah dijadikan pagar hidup, futoi juga membentuk harmonisasi dengan tanaman lain di sekelilingnya atau kolam yang dihiasnya.
Pada dasarnya, penempatan futoi bisa dilakukan sesuai selera dan konsep desain. Untuk di kolam, futoi terlebih dulu ditanam dalam pot, lalu pot direndam dalam kolam atau diletakkan di sekitar kolam.
Untuk memperindah halaman atau pagar, futoi juga lebih cantik ditanam dalam pot dan kurang cocok bila ditanam langsung di tanah. Untuk menambah ketegasan bentuk fisiknya, pilih pot panjang berukuran 100 x 40 cm.
Bila ingin futoi yang langsung “jadi” alias tampak penuh dalam pot, Anda bisa langsung menanamnya dalam jumlah banyak sekaligus, tergantung ukuran potnya. Misalnya, 20-30 rumpun sekaligus.
Namun, bila lebih menyukai proses perawatannya, bisa menanamnya 10 rumpun. “Jika mau sabar, beli satu deret saja dulu. Setelah kondisi tanahnya subur, rumpun futoi bisa cepat rapat,” saran Andie.
Lalu, bentuk pot seperti apa yang cocok untuk futoi? “Tergantung selera. Bekas belanga pun bagus buat potnya, dan justru terlihat etnik,” imbuhnya.
Ketinggian pot yang akan digunakan pun tergantu selera masing-masing. Soal penempatan pot, saran Andie, bisa diletakkan di halaman depan, pagar, di taman samping rumah, bahkan roof garden alias taman atap.
“Yang penting cukup terkena sinar matahari. Jika di dalam rumah lumayan sulit, kecuali cahayanya cukup,” ujarnya.
Bila suka, Anda bisa mengatur bentuknya. Membiarkannya tetap tinggi agar tampak bagus atau memotong pendek dan rata agar tampak minimalis dan cantik.
Untuk Obat Terkilir
Tahukah Anda, futoi, yang habitat aslinya di Amerika, Eropa, dan Asia ini juga merupakan tanaman obat? Ya, futoi bisa dimanfaatkan sebagai obat terkilir, keseleo, dan antiradang.
Secara empiris, sejak zaman dulu masyarakat Jawa secara turun-temurun menggunakan futoi untuk mengobati itu. “Bukan untuk luka terbuka, lho, tapi untuk luka dalam. Juga bukan obat minum!” terang Sukatno.
Cara pemanfaatan futoi sangat sederhana, meski tak ada tolok ukur pasti dalam penggunaannya. Segenggam batang futoi ditumbuk, lalu ditempelkan di bagian yang terkilir secukupnya.
Bila rasa sakitnya belum hilang, bisa berkali-kali memakai futoi. Ketika futoi tumbuk yang ditempelkan ke badan sudah kering, bisa diganti yang baru. “Belasan kali ganti tumbukan dalam sehari juga boleh. Tetap aman, karena tidak diminum, jadi tak ada kejadian overdosis,” imbuh Sukatno.
Agar manfaatnya dirasakan secara maksimal, gunakan futoi berbatang kurus, bukan yang berbatang gemuk. Futoi berbatang gemuk bisa dimanfaatkan sebagai obat, tapi khasiatnya tak sebesar yang berbatang kurus. Senyawa aktif yang berguna untuk mengobati keseleo dalam futoi berbatang gemuk memang tetap ada, tapi kadarnya lebih sedikit dibandingkan futoi berbatang kurus.
Agar Ujung Futoi Tak Kering
Salah memperlakukan futoi bisa mengakibatkan ujung batangnya mengering. Penyebab ujung kering ini adalah cahaya matahari yang terlalu banyak dan pupuk yang terlalu berlebih atau malah terlalu sedikit.
Kurang air dan fisik yang belum siap tapi sudah ditempa cahaya matahari juga bisa jadi pemicu. Cara mudah mengatasinya, dengan merawatnya secara benar. Serahkan perawatan kepada ahlinya atau mengontrol sendiri cahaya dan pupuknya.
Letakkan futoi yang baru ditanam di tempat teduh selama dua minggu. Futoi siap ditempa cahaya matahari bila sudah muncul tunas baru. Bila pot digenangi air, jangan taburkan pupuk secara langsung, karena bisa membuat pupuk langsung lenyap saat hujan turun.
Untuk futoi di pot bundar ukuran standar, saran Andie, beri pupuk urea atau NPK sebanyak 0,5-1 sendok teh. Bungkus pupuk dalam beberapa lembar tisu/ kain kasa, lalu tanam dalam lumpur pot. Pupuk akan sampai ke akar dan diserap pelahan, dan berikan pupuk pada futoi sekali sebulan.